KORPORATNNEWS.COM, Jakarta – 2 Tahun Prabowo Gibran menjadi momentum penting bagi penguatan investasi nasional melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia).

Lembaga investasi negara tersebut terus memperluas peran dalam mengoptimalkan aset BUMN dan mempercepat pembangunan proyek strategis.

Pemerintah memperkuat langkah tersebut melalui Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan investasi pembangunan.

Regulasi ini membuka peluang pembiayaan proyek nasional melalui kolaborasi pemerintah, BUMN, dan investor swasta.

Danantara mengarahkan strategi investasi pada sektor energi, infrastruktur dasar, hilirisasi, serta penguatan ekosistem keuangan nasional.

Managing Director Development Investment Danantara Development Management Fund (DDMF), M. Rachmat Kaimuddin, menekankan pentingnya investasi yang mendukung pembangunan dan pelayanan publik.

Strategi tersebut bertujuan menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pembiayaan pembangunan terhadap APBN.

2 Tahun Prabowo Gibran, Danantara Perkuat Investasi dan Transformasi BUMN

Dalam pengelolaan aset negara, Danantara menjalankan dua fungsi utama melalui Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Development Management Fund (DDMF).

DAM berfokus pada optimalisasi aset serta kinerja BUMN komersial. Sementara itu, DDMF mendorong investasi proyek pembangunan yang memiliki dampak ekonomi luas.

Pada sektor energi, Danantara membidik proyek strategis untuk memperkuat kemandirian nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

Sektor infrastruktur mencakup peluang pengembangan perumahan rakyat, konektivitas, dan perlindungan kawasan pesisir.

Sementara itu, investasi hilirisasi membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun industri bernilai tambah tinggi, termasuk ekosistem kendaraan listrik.

Penguatan investasi juga menjadi perhatian pemerintah sepanjang dua tahun pertama kepemimpinan Prabowo-Gibran.

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi nasional mencapai Rp3.923,2 triliun selama Oktober 2024 hingga September 2026.

Investasi tersebut menghasilkan penyerapan tenaga kerja sekitar 5,49 juta orang serta memperkuat aktivitas ekonomi berbagai daerah.

Namun, angka tersebut mencerminkan investasi nasional secara keseluruhan, bukan hanya investasi yang berasal dari Danantara.

Di sisi lain, pengembangan proyek strategis tetap membutuhkan tata kelola yang transparan dan pengawasan keuangan secara ketat.

Pengamat BUMN Herry Gunawan menilai Danantara memiliki kapasitas besar untuk meningkatkan produktivitas ekonomi melalui konsolidasi perusahaan negara.

Sementara itu, analis ekonomi Ronny P. Sasmita menekankan pentingnya pengelolaan risiko agar investasi tidak menciptakan beban fiskal tersembunyi.

Karena itu, Danantara perlu memperkuat keterbukaan laporan keuangan, kedisiplinan investasi, dan evaluasi kinerja proyek.

Kolaborasi bersama investor swasta juga berpotensi memperluas sumber pendanaan tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan.

Ke depan, keberhasilan Danantara tidak hanya bergantung pada besarnya aset, tetapi juga manfaat investasi bagi masyarakat.

Dengan strategi yang terukur, Danantara berpeluang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan daya saing Indonesia. []