KORPORATNEWS.COM, Jakarta – Keuangan BUMN masih banyak yang terdampak akibat pandemi covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 lalu.

Bahkan secara keseluruhan, kondisi keuangan BUMN hingga saat ini belum sepenuhnya pulih dan sehat.

Menurut Menter Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, dari 41 perusahaan pelat merah, baru 20-an perusahaan yang kondisi keuangannya sehat.

Sementara beberapa lainnya konfisinya masih belum stabil, baik akibat pandemi maupun karena bisnisnya yang yang tidak berkembang.

Erick pun menegaskan bahwa dirinya ingin kondisi keuangan BUMN bisa stabil secara merata agar dapat meningkatkan kontribusi kepada masyarakat dan negara.

“Ada sekitar 19 perusahaan yang kondisinya masih terdampak pandemi. Maka kita minta agar ada upaya yang maksimal untuk meningkatkan jumlah perusahaan yang keuangannya sehat, mencapai 30 perseroan,” ungkapnya di Telkom Landmark Tower, Jakarta, Kamis (21/4/2022).

Dalam upaya menyehatkan keuangan BUMN, Kementerian BUMN sudah melakukan berbagai langkah strategis, di antaranya melakukan merger, membentuk holding, hingga menghapus sejumlah BUMN yang mati suri.

Sejak Erick Thohir memimpin Kementerian BUMN, ia terus melakukan perampingan jumlah perusahaan pelat merah.

Beberapa perusahaan dengan lini bisnis yang sama dimerger dalam satu perusahaan besar agar bisa meraih kinerja yang optimal dan kondisi keuangan BUMN itu makin sehat.

Erick menyebut proses perampingan BUMN memerlukan waktu, maka ia berharap program ini dapat dilanjutkan oleh Menteri BUMN selanjutnya saat ia tak lagi menjabat.

Terkait langkah transformasi, Erick bercerita bahwa ia awalnya dikritik oleh banyak pihak karena melakukan berbagai perombakan, salah satunya di PT Telkom Indonesia.

Saat ini Erick meminta setiap petinggi BUMN harus berani berinovasi sesuai kemajuan teknologi dan jangan anti terhadap perubahan.

Hal itu disampaikan lantaran kemajuan teknologi menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari, maka BUMN harus berani kelaur dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru.

“Awalnya Telkom hanya meraup pendapatan yang besar dari Telkomsel, padahal saat itu industri telekomunikasi sudah mulai merubah. Dari yang awalnya menggunakan layanan pesan suara mulai beralih menggunakan paket data internet,” jelasnya.

Akhirnya, perubahan pun dilakukan dan mengikuti perkembangan, dan hasilnya kini nilai valuasi PT Telkom sudah mencapai Rp450 triliun dan lini bisnisnya pun terus bertumbuh. []