KORPORATNEWS.COM, Jakarta – Modal BSI atau PT Bank Syariah Indonesia Tbk harus dipertebal jika ingin diubah menjadi bank BUMN.

Pasalnya pemerintah menargetkan bank berkode BRIS ini di tahun 2022 akan menjadi perusahaan BUMN.

Rencana perubahan ini muncul setelah adanya kesepakatan para pemilik saham dengan Menteri BUMN Erick Thohir dan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin di tahun lalu.

Namun target tersebut harus dibarengi dengan penguatan modal BSI agar bank hasil merger 3 bank BUMN ini bisa menjadi lokomotif ekonomi syariah di Indonesia.

Pasalnya penambahan modal BSI adalah kebutuhan dasar agar bisa meningkatkan manfaat bank terhadap ekonomi syariah dan untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK).

Eko Sulistyo selaku Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan, jika banknya besar, masyarakat Indonesia cenderung memilih menabung di bank BUMN karena merasa lebih aman.

“Semakin banyaknya DPK yang masuk ke BSI akan menyokong fungsi intermediasi bank, dan dengan likuiditas yang mumpuni, BSI bisa lebih leluasa menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor potensial,” ujarnya.

Hal senada disampaikan pengamat ekonomi syariah, Fauziah Rizki yang menyebut penambahan modal BSI akan membuat bank ini punya potensi bisnis yang lebih luas.

Bank berkode BRIS ini juga akan lebih mudah mendapatkan dana murah sehingga bisa membuat produk pembiayaan lebih murah kepada konsumen.

“Masih banyak warga yang belum memiliki rekening bank, potensi ini sangat besar dan belum dioptimalkan oleh bank lain jadi bisa diambil sama BSI,” jelasnya.

Untuk memperkuat modal BSI, pihak perseroan juga berencana melakukan rights issue, yang akan memenuhi ketentuan batas minimal saham publik sebesar 7,5 persen di tahun ini.

Rencana penambahan modal dengan penerbitan saham baru ini sudah disampaikan Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo yang menyebut nilai saham baru yang akan diterbitkan bisa mencapai Rp7 triliun.

Adapun setelah BSI resmi dibentuk, performa keuangannya tumbuh positif, baik dari sisi aset maupun kemampuan keuntungan.

Tercatat pada Desember 2021, laba bersih bank BSI meningkat 38,42 persen secara tahunan menjadi Rp3 triliun.

Kemudian aset BSI juga naik 10,73 persen secara tahunan, penyaluran penyaluran pembiayaan naik 9,32 persen, pembiayaan konsumer naik 20 persen dan pembiayaan gadai emas naik 12,92 persen.

Kemudian pembiayaan mikro tumbuh 12,77 persen, pembiayaan komersial naik 6,86 persen dan kualitas pembiayaan atau NPF net perseroan sebesar 0,87 persen. []