KORPORATNEWS.COM, Jakarta – Obligasi Bank Mandiri secara resmi telah dihentikan penawarannya oleh pihak perseroan.

Bank BUMN ini telah memutuskan untuk menghentikan sisa Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Bank Mandiri Berkelanjutan II sebesar Rp19 triliun.

Alasannya karena Dana Pihak Ketiga (DPK) yang ada di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk masih tumbuh secara positif.

Penghentian penawaran obligasi Bank Mandiri ini disampaikan pihak perseroan dalam keterbukaan informasi pada Jumat 18 Maret 2022.

Diketahui, dari penawaran Obligasi Berkelanjutan II ini, perseroan menargetkan dana segar yang bisa terhimpun Rp20 triliun.

Namun dalam pelaksanaannya, bank berkode BMRI ini baru menghimpun dana sebesar Rp1 triliun pada tahun 2020, yaitu dari PUB Obligasi Berkelanjutan II Tahap I (Seri A dan B).

Jika dirinci, penawaran tahap I untuk Seri A jumlah obligasinya sebesar Rp350 miliar dengan tingkat bunga 7,75 persen.
Obligasi tahap I Seri A diterbitkan Bank Mandiri 12 Mei 2020 lalu dan akan jatuh tempo pada 12 Mei tahun 2025 (3 tahun lagi).

Sementara penawaran obligasi untuk tahap I Seri B jumlahnya sebesar Rp650 miliar dengan tingkat bunga 8,30 persen.

Untuk seri B ini juga diterbitkan 12 Mei 2020 namun jangka waktu jatuh temponye lebih lama, yakni 12 Mei 2027 (5 tahun lagi).

“Dengan demikian, sisa plafon dari penawaran obligasi Bank Mandiri adalah sebesar Rp19 triliun, dengan masa berlaku sampai dengan 30 April 2022,” jelas manajemen dalam keterbukaan informasi.

Bank yang tergabung di Himbara ini juga menyebutkan penghimpunan dana dari sisa plafon Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Bank Mandiri tersebut tak dilanjutkan pada tanggal 16 Maret 2022.

Karena manajemen sudah pertimbangan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang masih bertumbuh dengan sangat baik.

Pertumbuhan ini dipastikan mampu mendukung penyaluran kredit dan ekspansi bisnis Bank Mandiri serta menjaga kecukupan likuiditas perusahaan.

MELAMPAUI TARGET

Untuk diketahui, Bank Mandiri juga merupakan salah satu bank mitra yang mendistribusi SBN sukuk ritel seri SR016 dengan penjualan yang melampaui target.

Distribusi sukuk ritel ini penawarannya resmi ditutup pada 17 Maret lalau dengan total penjualan mencapai Rp1,92 triliun dari Mandiri.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan, jumlah it melampaui target dari Kementerian Keuangan yang sebelumnya ditetapkan Rp1,75 triliun.

Tingginya penjualan sukuk ritel ini menurutnya karena strategi promosi di berbagai media iklan yang berbasis online yang berhasil mendorong minat investor.

Selain itu, fixed return yang di atas rata-rata bunga deposito pasar juga turut menarik minat investor, serta prosesnya juga dijamin Undang-Undang. []