KORPORATNEWS.COM, Jakarta – Saham Adhi Karya rencananya bakal di-rights issue sebagai langkah perseroan untuk mendapatkan dana segar.

Pelaksanaan right issue Saham Adhi Karya ini rencananya akan digelar pada kuartal ke II tahun 2022.

Langkah Right Issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau disingkat HMETD ini juga merupakan tindak lanjut masuknya suntikan modal dari pemerintah.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk akan memanfaatkan dana yang didapat dari rights issue untuk merampungkan berbagai proyek besar yang sedang digarap tahun ini.

Beberapa proyek yang sedang dikerjakan emiten BUMN Karya ini di antaranya Tol Banda Aceh – Sigli dan LRT Jabodetabek.

Dana dari right issue saham Adhi Karya ini juga akan digunakan untuk melunasi utang obligasi yang jatuh tempo di tahun 2022 yang nilainya mencapai Rp3,75 triliun.

Corporate Secretary Adhi Karya Farid Budiyanto mengatakan, jika mempertahankan kepemilikan pemerintah sebesar 51 persen, pihaknya bisa meraup dana hingga Rp3,86 triliun termasuk dari PMN.

Sebab penerbitan rights issue saham Adhi Karya ini dijalankan seiring dengan persetujuan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada ADHI di tahun ini.

“Pelaksanaannya kami targetkan pada kuartal kedua tahun ini, namun saat ini masih dalam pembahasan antar kementerian atau pemegang saham pengendali,” jelasnya kepada Bisnis, Minggu (20/2/2022).

Dijelaskannya, ADHI akan mendapat dana PMN sebesar Rp1,97 triliun untuk pengerjaan proyek SPAM Regional Karian Serpong, Jalan Tol Solo-Yogya-Kulonprogo, dan ruas Yogyakarta-Bawen.
Dengan target total raihan dana senilai Rp3,86 triliun, ADHI optimis bisa meraup Rp1,89 triliun dari rights issue ritel.

Sementara Junior Research Associate Henan Putihrai Sekuritas, Ezaridho Ibnutama menyarankan kepada para investor ritel, pemegang saham BUMN perlu mengantisipasi undersubscription.

Langkah yang diperlukan yaitu menghindari perusahaan yang sahamnya memiliki riwayat undersubscription di pasar seperti Waskita.

Namun untuk underpricing saat ini tidak perlu dikhawatirkan karena memiliki efek sementara di pasar, harga teoritis mungkin akan mendorong harga pasar turun begitu rights effectif.